Tipe-tipe bule Jakarta

April 30th, 2007 by buledepok

Setelah memuat artikel tentang kategori orang Indonesia yang tinggal di luar negeri (yang membuat beberapa orang tersinggung) sekarang giliran bule untuk dikategorisasikan :)

Yang kenal saya sudah tahu bahwa saya sangat anti(pati) ama bule Jakarta. Selama sekian lama di sini saya tidak pernah mau berteman sama bule Jakarta. Demikian juga dengan perempuan: walau pinter, cantik, nyambung ama aku dan lucu… pas saya tahu dia pernah pacaran ama bule saya langsung jadi 100% hillfeel, kecewa bahkan bisa jijik. Ok.. that may be not rational but that’s what I feel.

Anyway, berikut 4 kategori bule menurut seorang ahli yang sudah lama tinggal di Jakarta (bukan saya):

By bule guys I’m only referring to white, single,
straight Caucasian males who are working in Jakarta as expats or
teachers, or bule guys who live on a pension. So tourists are excluded
from the observation.

I have been working in Jakarta for over 28 years and retired 2 years
ago. I’m still living in Indonesia (Bali now). I tell this so you know
I’m not just another nitwit who’s just arrived in Jakarta and thinks
that he knows it all - my conclusions have some truth in them.

Here are the four types I have determined:
       
       
      

1:  The Playboy type (20%)
2:  The Steady type (50%)
3:  The Reveller type (25%)
4:  The Lonely type (5%)
   

The Playboy type

Most often but not always young and good looking guys, often working as
well paid expats, but sometimes just working as teachers. They don’t
frequent the naughty bars, but like to go to upscale discos and pubs.
Most of these  guys have many girlfriends at the same time. Their
girlfriends are from the middle or higher classes, these guys rarely go
with girls from the lower classes. They never pay for sex and also
almost never sleep with the same girl two nights in a row, and they
also never sleep alone. They often meet their girls in malls or the
upscale nightlife venues or through friends or the Internet.

The Steady type

By far the largest group, some of them are young expats but by and
large this type is between 30 and 45 years of age. Some of them are
serious guys who don’t really like going out (anymore) or people who
fall in love easily, or who want to settle down. They could have been
in group one or group three before - but have somewhere along the way
fallen in love with a girl, or they have gotten enough of hunting. Some
of them actually end up marrying their girlfriend or some just keep her
for the duration of their stay in Indonesia. Most of them are quite
faith full to their girlfriend and don’t "dine outside" more then once
or twice a week, which is considered very faithful in Indonesia.

The Reveller type

The second largest group, they are mostly older (40 to 70) well paid
expats, or pensioners often divorced from their western wives. Some are
English teachers. They frequent the bars often going there every night,
but at least two or three times a week. They almost never take a steady
girlfriend and averagely sleep with one to three girls per week. They
often pay for those one night stands.

The Lonely type

This is a rare breed - but believe it or not, this type does exist!
They can be found in all ages. They are well paid expats, teachers or
pensioners. They don’t get an Indonesian girlfriend and rarely take a
bar girl, or a girl from another place. Reasons for that can be that
they can be extremely choosy or simply not interested in the girls, or
they may have physical limitations (short, bold, body deformations etc)
or they may severely lack social skills. Some of them are shy or
completely lack self confidence. A certain percentage (25%) of this
type doesn’t sleep with an Indonesian girl during their entire stay in
Indonesia! Most of the  guys in this category still sleep occasionally
with an Indonesian girl (mostly not bar girls) averagely about one to
four girls per month. They almost never pay for sex and rarely sleep
more than once with the same  girl.

       
       
       
       
       
       
       
       
       
       

Menarik kan? Pokoknya saya cukup setuju dengan kategori dan persentase ini. Menurut saya memang 98% bule Jakarta (apa pun pekerjaannya dan statusnya) adalah bule brengsek yang gak punya harga diri, mikir pakai penis dan merasa hebat karena bisa dapat ayam atau cewek murahan/matre dll…

Tapi saya tahu apa yang Anda pikir nih: "Bas, loe sendiri masuk kategori apa?".

Good question :)

Saya sebetulnya bule yang unik di sini dan gak bisa masuk kategori apa-apa :)

Tapi saya mirip "The lonely tipe". Saya picky, kurang bergaul, tidak pernah bayar untuk sex, tidak pernah mau tidur sama perek dan sudah 2.5 tahun tidak berhubungan seks sama sekali.

Kok bisa ya? Yaa.. bisa :(

Orang Indonesia di luar negeri

December 14th, 2006 by buledepok

Artikel berikut ini kudapat dari koran Kompas. Kutahu gak semua orang Indonesia di luar negeri begitu ya.. Banyak yang punya kehidupan dan pergaulan yang (relatif) normal  dan harus bekerja untuk membiayai kuliahnya misalnya. Tapi banyak juga yang seperti ITU tuhh:

Panggil saja saya Bryan. Saya tinggal di salah satu kota di England (Puji Tuhan,
saya juga beruntung pernah merasakan tinggal dibeberapa negara asing lainnya).
Saya punya banyak sekali pengalaman tidak menyenangkan dengan orang Indonesia di perantauan. Bedanya dengan Sdr Kiyat di UK (yang pernah ‘dikadalin’ teman
serumahnya) atau Sdr Isty di Amerika (yang dicuekin orang-orang Indonesia), saya
sama sekali TIDAK PERNAH berusaha untuk mencari komunitas Indonesia.

Perkenalan saya dengan beberapa orang Indonesia, umumnya secara kebetulan dan tidak sengaja (seperti ketemu di kampus, bis kota, pasar, warung internet, dll).
Bukannya saya sombong, tapi ketika pertama kali saya menginjakan kaki disini,
saya sudah membulatkan tekad untuk MANDIRI.
Saya ingat pesan orangtua saya (yang dulu ayah saya pun tinggal di Perancis
seorang diri), dia mengatakan kepada saya: “Nak….kamu beruntung bisa ke luar
negeri, manfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Belajarlah
memahami dan memberikan apresiasi pada kebudayaan lain. Jangan lupa sama akarmu, tapi jangan pernah BERGANTUNG pada orang lain. Jangan pernah MENGEMIS dan ingat selalu peribahasa dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung).”Dari beberapa pengamatan dan pengalaman saya, kebanyakan orang Indonesia di perantauan dapat dikelompokan sebagai berikut:

Kelompok pertama adalah mereka yang Sdr Kiyat gambarkan sebagai orang-orang USIL. Saking usilnya sampai pertama kali bertemu pun, yang ditanyakan adalah
hal-hal yang sifatnya pribadi. Seperti masalah gaji, visa,status,siapa orang tua kita, di indonesia tinggal  daerah mana? (maksud ingin tau daerah elit atau tidak),agama (pernah saya marah pada satu orang Indonesia yang kebetulan ketemu di supermarket. Setelah dia tanya nama saya, pertanyaan berikutnya yang dia tanyakan adalah agama saya. Seakan-akan kalau saya tidak seagama dengan dia, saya ini najis dan dia tidak mau berteman dengan saya).

Kelompok kedua adalah orang-orang Indonesia yang MANJA. Mereka bisanya Cuma komplain soal cuaca lah, makanan lah, tidak betah,gak bisa punya teman bule lah,ingin  pulanglah dll. Umumnya mereka cuma bergaul dengan sesama orang Indonesia. Jadi jangan heran, biar mereka sudah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, bahasa Inggrisnya masih belepotan, sering salah grammar bahkan seringkali logat Jawa-nya masih medok sekali. Mereka juga paling rajin berburu barang-barang langka asal Indonesia, mulai dari rokok Djisamsoe bahkan sampai kripik jengkol.

Kelompok ketiga adalah OKB. Kebanyakan (walaupun tidak semua) adalah istri-istri para bule, yang dulunya hidup susah. Begitu kaya sedikit, langsung kaget. Suka pamer, heboh dan norak. Saya jadi ingat teman saya yang bilang bahwa biar kita pakai pakaian bermerek, mobil bermerek, dll ‘jahitan’ aslinya pasti kelihatan. Di rubrik ini kita bisa melihat contohnya dengan jelas. Masih ingat saya, ada salah satu penulis (yang tidak perlu saya sebutkan namanya), dia begitu percaya diri melampirkan gedung tempat dia tinggal, supaya kelihatan elit). Bahkan ada juga yang memamerkan mobil,rumah, perabotan sehingga tidak mau kalah dengan sesama orang indonesia lainnya padahal pekerjaan dan status pun tidak jelas di luar negeri.Yang lebih parah lagi, kalo berbicara tidak  mau kalah dengan yg lainnya, seperti mereka ingin yg terhebat,terkaya, terpintar dsb.Dan tidak mau mendengarkan pembicaraan orang lain, mereka hanya ingin didengarkan, dan tidak bisa menerima kelebihan dari yg orang miliki. Biasanya sifat ini berdasarkan case di atas,yaitu norak dan tidak percaya diri.

Kelompok keempat adalah mereka yang MALAS. Malas belajar. Mereka berpikir, bahwa budaya kita yang paling baik dan tidak mau apresiasi budaya luar. Padahal, setiap budaya, pasti ada baik buruknya kan? Contohnya, banyak sekali orang-orang Indonesia yang sudah bertahun-tahun di luar negeri, tidak tau tata cara makan
internasional (table manner), tidak tau sejarah negara yang bersangkutan, buta
seni dan budaya bangsa dimana tempat kita tinggal, tidak tahu etiket-etiket yang
paling umum sekalipun (seperti membukakan pintu, bilang terima kasih), dll.

Kelompok kelima adalah mereka yang sok ‘POSH’. Biasanya mereka adalah anak-anak orang kaya yang dikirim ortunya untuk belajar di luar negeri. Waktu jaman Orde Baru, mereka ini bisa ekstrim sekali lho. Mereka bisa beli mobil seperti beli
kacang goreng, hobby-nya foya-foya, saling pamer dengan sesama orang kaya
Indonesia lainnya (mereka biasanya tidak bisa pamer didepan bule. Biasanya bule
sangat kritis dan langsung bertanya, ‘wah uang-mu banyak, padahal Indonesia
negara miskin ya ?’). Trus sewaktu mereka sudah lulus kuliah, bingung bagaimana melamar pekerjaan, karena mereka sekolah cuma karena gengsi bukan karena otak mereka. Akhirnya banyak perusahaan yang menolak, buntutnya balik ke indonesia dengan berbekal lulusan luar negeri yg sebenarnya tidak tau apa-apa.Jadi jangan heran, biar kuliah di luar negeri, lingkup pergaulan mereka pun cuma lokal, soalnya kalau mereka pamer di depan bule tidak terlalu dianggap serius, malah diberi senyum kecut dan akhirnya dijauhi.

Kelompok keenam, biasanya ada  saja yg sok tau, dalam hal seluk beluk negeri yg bersangkutan, padahal sebenarnya mereka tidak mengetahui sedikitpun. Datang ke luar negeripun berbekal nekad atau kabur, dan tidak jelas yg dilakukan di sana.

Saya tidak mengatakan bahwa semua orang Indonesia di luar negeri pasti seperti ini, karena saya tidak termasuk dalam kategori diatas. Tapi terus terang untuk bertemu orang Indonesia yang benar-benar tulus disini, sangat sulit. Orang-orang Indonesia tulus di luar negeri sama langkanya dengan rokok Djisamsoe atau kripik jengkol. Saya tidak takut tidak punya sahabat orang Indonesia, karena saya punya banyak sahabat dari berbagai bangsa. Ingin saya punya sahabat orang Indonesia, tapi tentunya orang Indonesia yang tulus.  Prinsip saya, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Salam Manis. (bryan-Inggris)

Yang tersinggung pasti termasuk salah satu kategori di atas!

 

Cari pacar atau suami?

December 14th, 2006 by buledepok

Mungkin Anda sudah lelah berganti-ganti pacar, dan siap untuk terikat pada suatu hubungan jangka panjang. Untuk sesaat, coba bayangkan Anda akan membeli sebuah mobil. Bisa mobil baru, bisa juga bekas, tetapi yang jelas Anda tahu bahwa Anda ingin sesuatu yang dapat digunakan untuk jangka waktu lama, sportif, menarik, praktis, sekaligus bisa diandalkan, nyaman, dan tentu saja bagus.

Hal tersebut sama halnya bila menginginkan seorang pasangan. Dia haruslah bisa diajak dalam suka dan duka. Nah, itu berarti yang Anda cari adalah seorang suami, bukan pacar. Bila yang Anda inginkan sebuah mobil sport yang mencolok dan menarik perhatian semua orang, yang Anda inginkan adalah seorang pacar, bukan suami.

Pertama, pikirkan tentang diri sendiri dan apa yang diinginkan dari suatu hubungan percintaan. Sebelum bisa mengerti dengan baik apa yang Anda inginkan, bagaimana mungkin orang lain (baik itu pacar atau suami) dapat mengerti Anda.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah tujuan dan prioritas. Maksudnya, bagaimana Anda menetapkan kecocokan dan gaya kepribadian Anda. Apa sasaran jangka pendek Anda? Ingin menyelesaikan pendidikan atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Akan mencoba bisnis baru atau membereskan hutang-piutang Anda? Lalu, tentukan tujuan jangka panjang Anda. Misalnya, di mana Anda melihat diri Anda 5, 10, 20 tahun mendatang?

Pikirkan tentang hubungan yang cocok dengan sasaran jangka pendek, lalu ingat tujuan jangka panjang Anda. Apakah hubungan yang akan Anda jalani akan dapat membantu Anda atau justru sebaliknya?

Kecocokan berarti kemampuan untuk melewati kebersamaan secara harmonis. Lantas, bagaimana Anda mendefinisikan kecocokan? Apakah Anda mencari seseorang yang dapat mengimbangi tanpa meniru Anda? Apakah Anda mencari seseorang yang mempunyai minat yang sama dan dengan siapa Anda dapat bersenang-senang? Mungkin Anda mencari seseorang yang sangat berbeda dengan Anda, seseorang yang membuat Anda merasa tertantang.

Apapun definisi Anda mengenai kecocokan, selalulah untuk ingat tujuan awal, yaitu mencari suami atau sekadar pacar. Seseorang yang tidak mau terikat bukan merupakan calon yang baik untuk seorang suami, dan seseorang yang mau berkomitmen bukanlah seorang yang tepat untuk dijadikan pacar. Paling tidak, untuk jangka waktu yang lama.

Yang juga patut dipahami, bagaimana dengan gaya kepribadian Anda? Apakah termasuk tipe orang yang mudah bergaul dan senang berkumpul? Mungkin Anda senang dengan segala kegiatan yang dilakukan di tempat terbuka atau mungkin Anda tipe orang rumahan yang senang membaca buku sambil mendengarkan musik. Apa pun tipe Anda, pikirkan tentang bagaimana Anda melihat pasangan yang cocok dengan gambaran yang diinginkan.

RAGAM PILIHAN

Sesudah melihat dan menilai diri Anda dan apa yang dicari, sekarang alihkan perhatian pada bagaimana Anda akan mendapatkan orang yang diinginkan. Untuk itu mari kita ibaratkan seolah-olah Anda sedang mencari sebuah mobil.

1. Kecepatan vs Jarak

Pacar biasanya menikmati kencan yang spontan dan cepat. Tidak terlalu terikat, senang sesuatu yang mengejutkan dan lebih mandiri dibandingkan dengan sesuatu yang lebih serius. Anda tetap harus memiliki sedikit pengertian bila ingin berkencan dengan perempuan yang termasuk tipe tersebut. Siapa tahu pikirannya berubah dan untuk itu beri dia kebebasan untuk memilih apa yang diinginkannya. Bila jarak yang dicari, Anda menginginkan pasangan yang bersedia melakukan hal yang sama dengan Anda. Dia mungkin bukan seseorang yang langsung dapat menerima Anda pada kencan pertama tetapi dia akan menjadi seseorang yang ada untuk Anda pada saat semua orang pergi meninggalkan Anda.

Untuk calon suami, sebaiknya Anda jangan terburu-buru. Beri dia ruang dan kebebasan untuk betul-betul menjalin hubungan dengan Anda. Rasa saling percaya dan persahabatan yang tulus, mutlak diperlukan untuk suatu hubungan jangka panjang. Dengan demikian calon suami akan dapat menikmati spontanitas dan kesenangan yang sehat, yang dapat memberi bumbu pada perkawinan!

2.  Misterius vs Manis

Bila yang Anda cari seseorang berwajah cover boy, sudah pasti yang Anda inginkan bukanlah seseorang untuk jangka panjang. Mungkin Anda menemukan seorang suami yang cocok dengan gambaran Anda dan mungkin dia gagah dan tampan. Tetapi bila hanya melihat penampilan luar, risiko mengelami kekecewaan kemungkinan besar akan Anda rasakan. Cari seseorang yang memiliki tatapan mata yang dalam dengan sinar mata yang mempesona atau seseorang dengan senyuman yang menawan dan Anda akan selalu terpesona dengan penampilannya, penampilan yang membuat pasangan Anda tampak istimewa.

3. Mencolok vs Berkarater

Wanita yang siap untuk suatu hubungan jangka panjang harus lebih teliti. Mereka mengerti, pria yang tampan tidak selalu pintar. Mereka juga paham, penampilan dapat membawa sensualitas yang lebih daripada gerak isyarat yang blak-blakan. Pria jangka panjang sering kurang romantis. Anda harus ingat, kelembutan dapat merupakan aset teromantis bagi seorang istri, dan yang dapat membantu suatu hubungan bertahan lama!

4. Nyaman vs Modern

Seorang pria modern dapat bertahan lama bila ada kenyamanan. Bila Anda merasa tidak nyaman hidup sendirian,  berbagi rahasia dan cerita, serta membayangkan masa depan dengannya, kemungkinan hubungan dengan dia bukan untuk jangka panjang. Bila yang Anda cari adalah seseorang dengan siapa Anda merasa betah dan nyaman tanpa melupakan jati diri, bisa berbagi cerita dan rahasia, serta bisa diajak melewati masa depan bersama, maka yang Anda cari adalah suatu hubungan jangka panjang, seseorang yang dapat dijadikan  suami.

Yang jelas dan sebaiknya dipahami, setiap pria ingin dihormati, dikagumi, diperlukan, serta memiliki hubungan yang menyenangkan dan penuh arti. Semua ini penting, tak peduli apa yang Anda cari dalam sebuah hubungan, Anda harus menyadari dan mengerti dulu, siapa diri Anda dan apa yang diinginkan dalam hidup ini.

Dari Kompas